Monthly Archives: April 2014

Peran Posdaya dalam Membentuk Kebijakan Pemberdayaan Masyarakat: Studi Kasus di Desa Cikarawang, Bogor, IndonesiaThe Role of Posdaya in Shaping Community Empowerment: Case Study at Cikarawang Village, Bogor, Indonesia

ABSTRAK Pos Pemberdayaan Keluarga atau disingkat Posdaya sebagai model pemberdayaan masyarakat di Indonesia telah dilaksanakan sejak tahun 2006 Program ini telah ditetapkan sebagai bagian dari program pengembangan masyarakat yang direncanakan oleh Institut Pertanian Bogor untuk pemberdayaan masyarakat yang tinggal sekitar kampus. Studi ini dilakukan untuk mengevaluasi pelaksanaan pembangunan Posdaya di sebuah desa di sekitar kampus, Desa Cikarawang, terutama untuk mengevaluasi sosialisasi tentang kampanye lingkungan sehat, pembangunan ekonomi dan ekstensi untuk pengelolaan sampah. Pemilihan lokasi untuk studi ini didasarkan pada pertimbangan purposive, sebagai desa Cikarawang belum pernah mengalami menikmati Program Posdaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para pemimpin masyarakat dan kader Posdaya menyadari tentang keberadaan Posdaya serta fungsi dan pentingnya untuk pemberdayaan masyarakat.

ABSTRACT Pos Pemberdayaan Keluarga or shortenend into Posdaya (Family empowerment post) as a model of community empowerment in Indonesia has been implemented since 2006. This program has been established as part of community development program planned by Bogor Agricultural University for the empowerment of communities living around the campus. This present study was carried out to evaluate the implementation of Posdaya development at a village around the campus, Cikarawang village, particularly to evaluate the socialization of healthy environment campaign, economic development and extension for waste management. The site selection for the study was based on purposive consideration, as the Cikarawang village has never experienced to enjoy Posdaya Program. The result of the study showed that the community leaders and the cadres of Posdaya were aware about the existance of Posdaya as well as its functions and importance for the community empowerment.

Bentuk Evaluasi TrainingForms of Training Evaluation

Model ROTI (Return On Training Investment) yang dikembangkan oleh Jack Phillips merupakan level evaluasi terakhir untuk melihat cost-benefit setelah pelatihan dilaksanakan. Kegunaan model ini agar pihak manajemen perusahaan melihat pelatihan bukan sesuatu yang mahal dan hanya merugikan pihak keuangan, akan tetapi pelatihan merupakan suatu investasi. Sehingga dapat dilihat dengan menggunakan hitungan yang akurat keuntungan yang dapat diperoleh setelah melaksanakan pelatihan, dan hal ini tentunya dapat memberikan gambaran lebih luas, apabila ternyata dari hasil yang diperoleh ditemukan bahwa pelatihan tersebut tidak memberikan keuntungan baik bagi peserta maupun bagi perusahaan.

Dapat disimpulkan bahwa model evaluasi ini merupakan tambahan dari model evaluasi Kirkpatrick yaitu adanya level ROTI (Return On Training Investment), pada level ini ingin melihat keberhasilan dari suatu program pelatihan dengan melihat dari Cost- Benefit-nya, sehingga memerlukan data yang tidak sedikit dan harus akurat untuk menunjang hasil dari evaluasi pelatihan yang valid.

Penerapan model evaluasi empat level dari Kirkpatrick dalam pelatihan dapat diuraikan dengan persyaratan yang diperlukan sebagai berikut.
Model ROTI (Return On Training Investment) developed by Jack Phillips is an evaluation of the level of the last to see the cost-benefit after training implemented. The usefulness of this model in order to see the company ‘s management training is not something that is costly and only financial harm, but training is an investment. So it can be viewed by using an accurate count of the advantages that can be obtained after carrying out the training, and it is certainly able to provide a broader picture, if it is found from the results obtained it was found that such training does not provide benefits both for the participants and for the company.

It can be concluded that this evaluation model is an addition of Kirkpatrick evaluation model that is the level of ROTI (Return On Training Investment), these levels wants to see the success of a training program with a view of the Cost-Benefit of his, so it requires little data and should accurate to support the results of the evaluation of training valid.

The application of the model of Kirkpatrick’s four levels of evaluation in training can be described by the following necessary requirements.

Program Pengembangan “Tabur Puja” Sebagai Intervensi Untuk Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Melalui Model PosdayaDevelopment Program “Tabur Puja” In Welfare Interventions for Improving Society Through Model Posdaya

ABSTRAK
Angka kemiskinan di Indonesia mengalami fluktuasi. Jumlah masyarakat dengan keterbatasan di Indonesia diyakini disebabkan oleh keterbatasan lapangan pekerjaan. Lembaga Keuangan Mikro (LKM) merupakan lembaga yang menyediakan jasa keuangan dalam bentuk simpan pinjam yang diperuntukkan bagi keluarga berpenghasilan rendah dan tidak memiliki akses ke perbankan komersial. Program Tabungan dan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) dioperasikan berupa ajakan untuk menabung dan mempergunakan kredit bagi masyarakat dengan keterbatasan. Tujuan kajian ini adalah mendiskripsikan program “Tabur Puja” dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin, dan mendiskripsikan kelebihan dan kekurangan program “Tabur Puja” dibandingkan pembiayaan usaha mikro lainnya. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan responden 5 (lima) Posdaya yang menggerakan Tabur Puja di Bogor. Hasil wawancara dan pengamatan diperoleh bahwa mekanisme pemberian pinjaman Tabur Puja tidak lebih dari Rp. 2 juta kepada setiap anggota posdaya, adanya tatanan tanggung renteng, adanya kegiatan perdampingan membuat Tabur Puja menjadi program yang mampu untuk meningkatan kesejahteraan masyarakat. Adanya program pemberdayaan masyarakat yang ada dalam Posdaya membuat penggunaan dana pinjaman sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. Pola pendampingan yang dilakukan meliputi pertemuan rutin mingguan, pendampingan langsung ke lapangan, dan pemberian pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kelebihan sistem “Tabur Puja” adalah adanya pendekatan pemberdayaan terhadap para nasabah. Pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui Posdaya dengan membangun masyarakat melalui 4 (empat) pilar pembangunan dirasakan oleh masyarakat memiliki manfaat yang sangat besar, terutama dalam peningkatan kesejahteraan pembangunan.
ABSTRACT
The poverty rate in Indonesia has fluctuated. Number of people with limitations in Indonesia is believed to be caused by the limited job opportunities. Microfinance Institutions (MFIs) are institutions that provide financial services in the form of savings and loans earmarked for low-income families and do not have access to commercial banking. Purse Savings and Credit Program Sejahtera (Powder Puja) is operated in the form of an invitation to save and use credit for people with disabilities. The purpose of this study is to describe the program “Tabur Puja” in improving the welfare of the poor, and describe the advantages and disadvantages of the program “Tabur Puja” compared to other micro financing. The method used is descriptive qualitative analysis with respondent 5 (five) Posdaya that move Powder Puja in Bogor. The results of interviews and observations obtained that the mechanism Puja Loose lending no more than Rp. 2 million to each member Posdaya, the presence of joint liability order, the activity of contiguity make Puja Powder into a program that is able to improve the welfare of the community. Community empowerment program in Posdaya make use of loan funds in accordance with the plans that have been prepared beforehand. The pattern of assistance undertaken include regular weekly meetings, direct assistance to the field, and training services needed by the community. The advantages of the system “Tabur Puja” is the empowerment approach towards customers. Posdaya approach to community empowerment through community building through four (4) pillars of development amongst communities have enormous benefits, particularly in improving the welfare of the construction.

Lubang Resapan Biopori: Efektif Untuk Pemanfaatan Sampah dan Peresapan Air HujanHole Infiltration Biopori: For Effective Waste Utilization and Seepage of Rain

biopori
Dari mana asalnya?
Siapa yang bertanggung-jawab mengelolanya?
1. Mengangkut
2. Mencari tempat pembuangan
3. Mencegah dampak negatif:
- Emisi gas rumah kaca
- Pencemaran air tanah
- Pencemaran udara
- Sarang pembawa penyakit
Where it came from?
Who is responsible for managing it?
1. Transporting
2. Seeking landfills
3. Preventing negative impacts:
- Greenhouse gas emissions
- Pollution of groundwater
- Air pollution
- Nest of disease vectors

SDM sebagai Mitra: Tantangan Pengukuran – Peran, Perilaku SDM Strategis Tantangan PengukuranHR as Partners: Challenges of Measurement – Strategy, HR Strategic Behavior Measurement challenges

SDM-sebagai-mitra

SDM sebagai Mitra: Tantangan Pengukuran
Peran, Perilaku SDM Strategis
Tantangan Pengukuran
Oleh :
Sjafri Mangkupariwa
Illah Sailah

Perubahan
Perubahan dalam masyarakat telah menyebabkan perubahan dalam ekonomi dan pendidikan yang sejajar satu sama lain

HR as Partners: Challenges of Measurement
Strategy, HR Strategic Behavior
Measurement challenges
Oleh :
Sjafri Mangkupariwa
Illah Sailah

Changes
Changes in society have led to changes in the economy and education which parallel each other