Bentuk Evaluasi TrainingForms of Training Evaluation

Model ROTI (Return On Training Investment) yang dikembangkan oleh Jack Phillips merupakan level evaluasi terakhir untuk melihat cost-benefit setelah pelatihan dilaksanakan. Kegunaan model ini agar pihak manajemen perusahaan melihat pelatihan bukan sesuatu yang mahal dan hanya merugikan pihak keuangan, akan tetapi pelatihan merupakan suatu investasi. Sehingga dapat dilihat dengan menggunakan hitungan yang akurat keuntungan yang dapat diperoleh setelah melaksanakan pelatihan, dan hal ini tentunya dapat memberikan gambaran lebih luas, apabila ternyata dari hasil yang diperoleh ditemukan bahwa pelatihan tersebut tidak memberikan keuntungan baik bagi peserta maupun bagi perusahaan.

Dapat disimpulkan bahwa model evaluasi ini merupakan tambahan dari model evaluasi Kirkpatrick yaitu adanya level ROTI (Return On Training Investment), pada level ini ingin melihat keberhasilan dari suatu program pelatihan dengan melihat dari Cost- Benefit-nya, sehingga memerlukan data yang tidak sedikit dan harus akurat untuk menunjang hasil dari evaluasi pelatihan yang valid.

Penerapan model evaluasi empat level dari Kirkpatrick dalam pelatihan dapat diuraikan dengan persyaratan yang diperlukan sebagai berikut.
Model ROTI (Return On Training Investment) developed by Jack Phillips is an evaluation of the level of the last to see the cost-benefit after training implemented. The usefulness of this model in order to see the company ‘s management training is not something that is costly and only financial harm, but training is an investment. So it can be viewed by using an accurate count of the advantages that can be obtained after carrying out the training, and it is certainly able to provide a broader picture, if it is found from the results obtained it was found that such training does not provide benefits both for the participants and for the company.

It can be concluded that this evaluation model is an addition of Kirkpatrick evaluation model that is the level of ROTI (Return On Training Investment), these levels wants to see the success of a training program with a view of the Cost-Benefit of his, so it requires little data and should accurate to support the results of the evaluation of training valid.

The application of the model of Kirkpatrick’s four levels of evaluation in training can be described by the following necessary requirements.

Level 1: Reaksi
Evaluasi reaksi ini sama halnya dengan mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan. Komponen-komponen yang termasuk dalam level reaksi ini merupakan acuan untuk dijadikan ukuran. Komponen-komponen tersebut indikatornya adalah:
1. Instruktur/ pelatih. Dalam komponen ini terdapat hal yang lebih spesifik lagi yang dapat diukur, disebut juga dengan indikator. Indikator-indikatornya adalah kesesuaian keahlian pelatih dengan bidang materi, kemampuan komunikasi dan keterampilan pelatih dalam mengikutsertakan peserta pelatihan untuk berpartisipasi.
2. Fasilitas pelatihan. Dalam komponen ini, yang termasuk dalam indikator-indikatornya adalah ruang kelas, pengaturan suhu di dalam ruangan dan bahan dan alat yang digunakan.
3. Jadwal pelatihan. Yang termasuk indikator-indikator dalam komponen ini adalah ketepatan waktu dan kesesuaian waktu dengan peserta pelatihan, atasan para peserta dan kondisi belajar.
4. Media pelatihan. Dalam komponen ini, indikator-indikatornya adalah kesesuaian media dengan bidang materi yang akan diajarkan yang mampu berkomunikasi dengan peserta dan menyokong instruktur/ pelatihan dalam memberikan materi pelatihan.
5. Materi Pelatihan. Yang termasuk indikator dalam komponen ini adalah kesesuaian materi dengan tujuan pelatihan, kesesuaian materi dengan topik pelatihan yang diselenggarakan.
6. Konsumsi selama pelatihan berlangsung. Yang termasuk indikator di dalamnya adalah jumlah dan kualitas dari makanan tersebut.
7. Pemberian latihan atau tugas. Indikatornya adalah peserta diberikan soal.
8. Studi kasus. Indikatornya adalah memberikan kasus kepada peserta untuk dipecahkan.
9. Handouts. Dalam komponen ini indikatornya adalah berapa jumlah handouts yang diperoleh, apakah membantu atau tidak.

Level 2: Pembelajaran
Pada level evaluasi ini untuk mengetahui sejauh mana daya serap peserta program pelatihan pada materi pelatihan yang telah diberikan, dan juga dapat mengetahui dampak dari program pelatihan yang diikuti para peserta dalam hal peningkatan knowledge, skill dan attitude mengenai suatu hal yang dipelajari dalam pelatihan.

Pandangan yang sama menurut Kirkpatrick, bahwa evaluasi pembelajaran ini untuk mengetahui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh dari materi pelatihan. Oleh karena itu diperlukan tes guna utnuk mengetahui kesungguhan apakah para peserta megikuti dan memperhatikan materi pelatihan yang diberikan. Dan biasanya data evaluasi diperoleh dengan membandingkan hasil dari pengukuran sebelum pelatihan atau tes awal (pre-test) dan sesudah pelatihan atau tes akhir (post-test) dari setiap peserta. Pertanyaan-pertanyaan disusun sedemikian rupa sehingga mencakup semua isi materi dari pelatihan.

Level 3: Perilaku
Pada level ini, diharapkan setelah mengikuti pelatihan terjadi perubahan tingkah laku peserta (karyawan) dalam melakukan pekerjaan. Dan juga untuk mengetahui apakah pengetahuan, keahlian dan sikap yang baru sebagai dampak dari program pelatihan, benar-benar dimanfaatkan dan diaplikasikan di dalam perilaku kerja sehari-hari dan berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja/ kompetensi di unit kerjanya masing-masing.

Level 4: Hasil
Mengukur hasil dari training terhadap keuntungan perusahaan (profitability), produktifitas, kualitas kerja, penjualan, turnover dan pengeluaran (expenses), hanya sekitar 7% organisasi yang menerapkan cara ini. Reaksi, didefinisikan sebagai bagaimana tanggapan peserta terhadap program training tersebut. Pembelajaran, suatu tingkatan dimana peserta secara tertulis diuji untuk dapat mengetahui sejauh mana materi training telah diterima oleh mereka. Perilaku, ditujukan m mengukur perubahan sikap kerja dalam kegiatan sehari-hari. Hasil digunakan untuk mengetahui seberapa besar program pelatihan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.

Hasil akhir tersebut meliputi, peningkatan hasil produksi dan kualitas, penurunan harga, peningkatan penjualan. Tujuan dari pengumpulan informasi pada level ini adalah untuk menguji dampak pelatihan terhadap kelompok kerja atau organisasi secara keseluruhan. Sasaran pelaksanaan program pelatihan adalah hasil yang nyata yang akan disumbangkan kepada perusahaan sebagai pihak yang berkepentingan. Walaupun tidak memberikan hasil yang nyata bagi perusahan dalam jangka pendek, bukan berarti program pelatihan tersebut tidak berhasil. Ada kemungkinan berbagai faktor yang mempengaruhi hal tersebut, dan sesungguhnya hal tersebut dapat dengan segera diketahui penyebabnya, sehingga dapat pula sesegera mungkin diperbaiki.
Salah satu faktor utama penentu suksesnya suatu bangsa diantaranya adalah Information Communication and Tecnologies (ICT). Keterbatasan penyediaan Information Communication and Tecnologies (ICT). di daerah pedesaan merupakan suatu permasalahan yang harus diamati pemerintah.
Telecenter merupakan salah satu model pengembangan sarana dan prasarana TIK di perdesaan. Telecenter dibangun bukan hanya sebagai suatu bangunan fisik melainkan terpadu dengan program infomobilisasi yaitu upaya intervensi untuk mengembangkan budaya komunikasi baru yang lebih partisipatif dan interaktif, baik menggunakan media/saluran lokal maupun TIK. Telecenter merupakan wadahnya, sedangkan infomobilisasi merupakan isinya, untuk menjadikan informasi bermakna dan bermanfaat bagi upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Level 1: Reaction
Evaluation of this reaction as well as by measuring the level of satisfaction of the trainee. The components included in the reaction level is used as a reference for size. The components of the indicator are:
1. Instructor/trainer. In this component there are more specific things that can be measured, also called indicators. The suitability of the indicators is the coach with the field of material expertise, communication skills and skills trainers engage the participants in the training to participate.
2. Facility training. In this component, which is included in the indicators are classrooms, setting the temperature in the room and the materials and tools used.
3. Schedule training. Which includes indicators in this component is the timeliness and appropriateness of time with the trainees, supervisors and participants learning conditions.
4. The Media training. In this component, the indicators are the suitability of the media with the material that will be taught are able to communicate with the participant and instructor support/training in providing training materials.
5. Material training. Which includes indicators in this component is the suitability of the material with the purpose of training, fitness training materials organized by topic.
6. Consumption during the training. Which includes indicators in it is the amount and quality of the food.
7. Provision of training or duty. The indicator is given about the participants.
8. Study case. The indicators are giving the case to the participants to be solved.
9. Handouts. In this component of the indicator is how many handouts obtained, whether to help or not.

Level 2: Learning
At this level of evaluation to determine the extent of absorption of the participants in the training programs of training materials that have been given, and also to determine the impact of the training program that followed the participants in terms of improving the knowledge, skills and attitude on a matter that is learned in training.

Same view according to Kirkpatrick, that the evaluation of this study to determine the increase in knowledge, skills and attitudes gained from the training material. It is therefore necessary tests to separately determine whether the participants megikuti seriousness and attention given training materials. And evaluation of data is usually obtained by comparing the results of measurements before training or testing early (pre-test) and after training or test end (post-test) of each participant. The questions are arranged in such a way so that it includes all the content of the training material.

Level 3: Behavior
At this level, expected after training changes behavior of participants (employees) to do the job. And also to determine whether the knowledge, skills and new attitudes as a result of the training program, actually utilized and applied in everyday work behavior and significantly influence the performance improvement/competencies in each work unit.

Level 4: Results
Measuring the results of training on company profits (profitability), productivity, quality of work, sales, turnover and expenditures (expenses), only about 7% of organizations are using this approach. Reactions, defined as how the participants’ response to the training program. Learning, the degree to which participants were tested in writing in order to determine the extent to which training materials have been received by them. Behavior, aimed at measuring the change in attitude m working in daily activities. The results are used to determine how much training program affect the company ‘s performance.

The final results include, an increase in yield and quality, lower prices, increased sales. The purpose of collecting information at this level is to examine the impact of training on the work group or organization as a whole. Objectives of the training program is the real results that will be donated to the company as an interested party. Although it does not provide tangible results for the company in the short term, it does not mean that the training program was not successful. There are various factors that affect the likelihood that, and in fact it can be immediately known cause, so it can also be repaired as soon as possible.
One of the main factor determining the success of a nation of which is Information Communication and Tecnologies (ICT). Limitations provision of Information Communication and Tecnologies (ICT). in rural areas is a problem that must be observed by the government.
Telecenter is one model of the development of ICT infrastructure in rural areas. Telecenter was built not just as a physical building but infomobilisasi program that is integrated with intervention efforts to develop new communication culture that is more participatory and interactive, either using the media/channels both local and ICT. Telecenter is a container, while infomobilisasi is it, to make meaningful and useful information for improving quality of life.

intervensi kompudaya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Captcha *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>