Tag Archives: Masyarakat

Program Pengembangan “Tabur Puja” Sebagai Intervensi Untuk Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Melalui Model PosdayaDevelopment Program “Tabur Puja” In Welfare Interventions for Improving Society Through Model Posdaya

ABSTRAK
Angka kemiskinan di Indonesia mengalami fluktuasi. Jumlah masyarakat dengan keterbatasan di Indonesia diyakini disebabkan oleh keterbatasan lapangan pekerjaan. Lembaga Keuangan Mikro (LKM) merupakan lembaga yang menyediakan jasa keuangan dalam bentuk simpan pinjam yang diperuntukkan bagi keluarga berpenghasilan rendah dan tidak memiliki akses ke perbankan komersial. Program Tabungan dan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) dioperasikan berupa ajakan untuk menabung dan mempergunakan kredit bagi masyarakat dengan keterbatasan. Tujuan kajian ini adalah mendiskripsikan program “Tabur Puja” dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin, dan mendiskripsikan kelebihan dan kekurangan program “Tabur Puja” dibandingkan pembiayaan usaha mikro lainnya. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan responden 5 (lima) Posdaya yang menggerakan Tabur Puja di Bogor. Hasil wawancara dan pengamatan diperoleh bahwa mekanisme pemberian pinjaman Tabur Puja tidak lebih dari Rp. 2 juta kepada setiap anggota posdaya, adanya tatanan tanggung renteng, adanya kegiatan perdampingan membuat Tabur Puja menjadi program yang mampu untuk meningkatan kesejahteraan masyarakat. Adanya program pemberdayaan masyarakat yang ada dalam Posdaya membuat penggunaan dana pinjaman sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. Pola pendampingan yang dilakukan meliputi pertemuan rutin mingguan, pendampingan langsung ke lapangan, dan pemberian pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kelebihan sistem “Tabur Puja” adalah adanya pendekatan pemberdayaan terhadap para nasabah. Pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui Posdaya dengan membangun masyarakat melalui 4 (empat) pilar pembangunan dirasakan oleh masyarakat memiliki manfaat yang sangat besar, terutama dalam peningkatan kesejahteraan pembangunan.
ABSTRACT
The poverty rate in Indonesia has fluctuated. Number of people with limitations in Indonesia is believed to be caused by the limited job opportunities. Microfinance Institutions (MFIs) are institutions that provide financial services in the form of savings and loans earmarked for low-income families and do not have access to commercial banking. Purse Savings and Credit Program Sejahtera (Powder Puja) is operated in the form of an invitation to save and use credit for people with disabilities. The purpose of this study is to describe the program “Tabur Puja” in improving the welfare of the poor, and describe the advantages and disadvantages of the program “Tabur Puja” compared to other micro financing. The method used is descriptive qualitative analysis with respondent 5 (five) Posdaya that move Powder Puja in Bogor. The results of interviews and observations obtained that the mechanism Puja Loose lending no more than Rp. 2 million to each member Posdaya, the presence of joint liability order, the activity of contiguity make Puja Powder into a program that is able to improve the welfare of the community. Community empowerment program in Posdaya make use of loan funds in accordance with the plans that have been prepared beforehand. The pattern of assistance undertaken include regular weekly meetings, direct assistance to the field, and training services needed by the community. The advantages of the system “Tabur Puja” is the empowerment approach towards customers. Posdaya approach to community empowerment through community building through four (4) pillars of development amongst communities have enormous benefits, particularly in improving the welfare of the construction.

Pembangunan Masyarakat Melalui Gerakan Pemberdayaan MasyarakatCommunity Development Through Community Empowerment Movement

Batasan Istilah
Pemberdayaan masyarakat (community emporwerment) adalah perujudan dari pengembangan kapasitas masyarakat yang bernuansa pada pemberdayaan sumberdaya manusia agar paham dengan hak dan kewajibannya sesuai dengan status dan peran di masyarakat.
Perlunya upaya pemberdayaan adalah berangkat dari kenyataan masih lemahnya posisi sebagian besar masyarakat dalam menuntut hak dan menjalankan kewajibannya ditunjukkan dengan kurang aksesnya mereka terhadap beberapa fasilitas, misalnya informasi, teknologi, permodalan usaha, hukum, dan apalagi kemampuan kontrol. Berbagai kelemahan akses tersebut diawali dengan rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat kita terutama di pedesaaan.
Komposisi penduduk yang mencari nafkah pada bidang pertanian masih berkisar pada angka 60 %. Oleh karena itu memberdayakan masyarakat adalah sangat terkait dengan memberdayakan petani. Kurang berdayanya petani merasuk pada hampir segenap aktifitas usaha yang dilaksanakannya. Pada awal musim tanam petani dihadapkan pada masalah pemakaian jenis benih, yang karena ketidak berdayaan dalam mengontrol tidak sedikit petani yang tertipu menggunakan benih palsu. Dalam masa pemeliharaan tanaman, ketersediaan pupuk ataupun harga pupuk tidak dapat disuarakan apalagi disolusikan oleh petani. Mereka cenderung menerima apa adanya, sehingga sampai panenpun mereka tidak dapat berbuat banyak ketika harga produksinya anjlok dan jatuh di bawah harga dasar yang ditetapkan pemerintah. Petani tidak berdaya, masyarakat tidak berdaya.

Term Limits
Community empowerment (community emporwerment) is perujudan of community development nuanced on empowering human resources in order to understand the rights and obligations in accordance with the status and role in society.
The need for empowerment is a departure from reality is still the weak position of the majority of the people in demanding the rights and obligations indicated by their lack of access to some facilities, such as information, technology, venture capital, law, and especially the ability of control. Various drawbacks such access begins with a low level of education held by our society, especially in rural.
The composition of the population who earn a living in agriculture still range in the 60 %. Therefore, empowering the community is strongly associated with empowering farmers. Less helpless farmers pervasive in almost all business activities he is performing. At the beginning of the growing season farmers are faced with a problem the use of seeds, which is due to helplessness in controlling deceived not a few farmers who use fake seeds. In plant maintenance period, the availability of fertilizer or fertilizer prices can not be voiced especially disolusikan by farmers. They tend to accept what is, so until panenpun they can not do much when prices plummeted and production falls below the floor price set by the government. Farmers helpless, powerless people.